BICARA

Billy – Calysta – Ira

Shutter Speed

Dalam fotografi Shutter speed berarti waktu yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup kembali tirai (shutter) sehingga cahaya bisa diterima masuk oleh sensor (dalam dslr). Pada diagram 1 dan diagram 2 bisa dilihat jelas bagaimana proses tersebut berlangsung. Ketika kamera dalam posisi diam maka shutter akan menutupi semua bagian sensor dan posisi cermin ke arah bawah sehingga mata bisa melihat object yang akan di rekam. Ketika tombol shutter ditekan, maka posisi cermin akan menutup ke atas dan bersamaan dengan itu shutter akan membuka dan membiarkan cahaya masuk ke sensor.

Pergerakan cermin dan shutter itulah yang mengeluarkan suara “klik“ pada saat tombol shutter ditekan. Waktu yang dibutuhkan untuk menutup kembali shutter itulah yang dinamakan shutter speed.

Masalahnya sekarang adalah berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk membuka dan menutup kembali shutter tersebut? Jawabannya adalah tergantung kepada keadaan cahaya yang ada, kondisi lensa dan kamera itu sendiri, juga kreatifitas/keinginan si fotografer sendiri. Lebih jauh tentang masalah ini akan dibahas pada bagian exposure.

Satuan waktu pada kecepatan Shutter kamera berada dalam rentang detik dan 1/sekian detik. Biasanya diset dalam interval “1 stop“, sama halnya dengan aperture, setiap penambahan 1 stop berarti jumlah cahaya yang masuk menjadi 2 kalinya dan sebaliknya setiap pengurangan 1 stop berarti jumlah cahaya yang masuk menjadi ½ kalinya. Range intervalnya adalah sebagai berikut:

…1/1000, 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30, 1/15, 1/8, 1/4, 1/2 ,1, 2, 4, 8, 15, 30….

Semakin ke kiri berarti semakin cepat kecepatan shutternya dan semakin sedikit cahaya yang bisa masuk, sebaliknya semakin ke kanan, berarti semakin lambat kecepatan shutternya dan semakin banyak cahaya yang bisa ditampung. 1/1000 berarti satu per seribu detik, mungkin lebih cepat dari kedipan mata.

Efek kecepatan terhadap foto

Shutter speed yang cepat bisa menangkap object yang sedang bergerak seakan berhenti (freeze) dan shutter speed yang rendah akan mengakibatkan object yang sedang bergerak terlihat bergerak (blur/motion). Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk menangkap object dengan shutter speed rendah, tapi hal itu akan dibahas pada bagian lain. Di sini kita hanya akan membahas efek pada umumnya saja.

Shutter dengan kecepatan tinggi

Untuk aktifitas manusia biasa kecepatan 1/125 sudah cukup untuk membuat aktifitas tampak diam. Untuk aktifitas olahraga membutuhkan kecepatan yang lebih cepat dari itu, balap mobil, perlu lebih cepat lagi. Pendek kata kecepatan aktifitas yang cepat perlu di set shutter yang lebih cepat lagi untuk membekukan aktifitas tersebut.

Gambar 3, memberikan contoh bagaimana seorang anak yang sedang berlari tampak seakan melayang karena saat momen itu terjadi kamera merekam dengan kecepatan yang lebih cepat daripada gerakan si anak. Foto tersebut diambil dengan kecepatan 1/800 detik.

Shutter dengan kecepan rendah

Ketika shutter speed diset pada kecepatan rendah, maka efek gerak pada setiap aktifitas yang direkan akan terlihat seperti bayangan blur.

Foto 4, diambil pada kecepatan sekitar 1 detik, memperlihatkan air yang mengalir pada air terjun. Efek shutter lambat ini akan memperlihatkan aliran air yang seperti kapas, indah untuk dilihat karena memberikan mood yang berbeda dibanding dengan foto air yang direkam dengan kecepatan tinggi. 

Pada kecepatan yang lebih lambat lagi, efek yang dihasilkan bisa lebih mengasikan lagi, karena selama shutter terbuka maka akan merekam gambar yang masuk ke sensor, dan karena gambar yang masuk tersebut tidak utuh maka akan merupakan bayangan-bayangan saja.

Gambar 5, diambil pada kecepatan 30 detik, m

emperlihatkan contoh efek tersebut.

Perlukah Tripod pada kecepatan rendah?

Rule of thumb dari para fotografer bahwa penggunaan kamera dengan hanya menggunakan tangan (handheld) maksimal pada kecepatan 1/60. Kecepatan dibawah itu akan sangat riskan mengakibatkan kamera bergoyang dan menimbulkan blur pada gambar. Perlu dibedakan antara blur pada slow effect dengan blur akibat kamera bergoyang. Pada slow effect masih terdapat bagian tajam pada object statis sedangkan pada kamera yang goyang semua bagian akan menjadi blur dan tidak jelas. Bagi saya pribadi 1/125 adalah angka yang paling aman untuk mengambil foto tanpa bantuan tripod atau alat bantu lainnya. Gambar 7, memperlihatkan contoh gambar blur akibat kamera bergoyang dan gambar yang tidak.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa kecepatan yang aman akan tergantung juga pada Focal length yang digunakan. Sebagai contoh jika focal length yang digunakan 500 mm maka kecepatan amannya adalah 1/500. Jika focal length 100 mm maka kecepatan amannya adalah 1/100, begitu seterusnya. Penggunaan tripod atau setidaknya monopod akan membantu kita mendapatkan gambar yang tajam atau istilah kerennya tact sharp.

08/09/2010 - Posted by | PHOTOGRAPHY

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: