BICARA

Billy – Calysta – Ira

Apa itu APERTURE ?

Pada fotografi, aperture adalah lubang yang terdapat dalam lensa yang berfungsi untuk mengalirkan cahaya yang terproyeksikan ke sebuah benda masuk ke sensor pada kamera digital atau film pada kamera analog. Pada lensa, lubang ini di hasilkan dari beberapa material tipis yang membetuk lingkaran yang sering di kenal dengan sebutan diafragma (lihat gb. 1). Besar-kecilnya lubang inilah yang kemudian dijadikan sebuah ukuran baku yang dinamakan f-stop.

Gambar 1. Diafragma

Ukuran baku f-stop adalah sebagai berikut:

f/64, f/32, f/22, f/16, f/11, f/8.0, f/5.6, f/4.0, f/2.8, f/2.0, f/1.8, /f1.4

Ukuran tersebut adalah range f-stop yang ada di pasaran. Setiap lensa tentunya akan mempunya range yang berbeda-beda yang akan disesuaikan oleh factor lainnya dan akan sangat mempengaruhi harga lensa itu sendiri.

f pada f-stop adalah kependekan dari kata fraction, atau dalam bahasa kita “satu per…”. Pada ukuran f/64, itu berarti lubang yang dibentuk oleh diafragma 1/64 satuan dan pada f/1.4 berarti 1/1.4 satuan. Artinya semakin kecil angka f-stop, berarti semakin besar lubang pada lensa tersebut dan sebaliknya semakin besar angka f-stop berarti semakin kecil lubang pada lensa tersebut. Lihat gambar 2 dan gambar 3.

Gambar 2. Posisi bukaan diafragma pada f-4

Gambar 3. Posisi bukaan diafragma pada f-22

Semakin lebar bukaan yang dibentuk oleh diafragma berarti semakin banyak cahaya yang bisa masuk dalam satu satuan waktu. Satuan waktu ini berhubungan dengan kecepatan kamera (shutter speed) yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Oleh sebab itu lensa yang mempunyai kemampuan bukaan diafragma yang besar sering dikategorikan sebagai lensa cepat. Sebaliknya semakin kecil bukaan lensa berarti semakin sedikit cahaya yang bisa masuk per satu satuan waktu.

Pada ukuran baku di atas setiap pergantian angka ke angka di depannya, sebagi contoh dari f/22 ke f/16, berarti ada penambahan cahaya yang masuk sebesar 1 stop atau cahaya yang masuk menjadi 2 kali dari jumlah cahaya awal. Sebaliknya pada pergantian angka dibelakangnya seperti dari f/4.0 ke f/5.6 berarti ada pengurangan cahaya yang masuk sebesar 1 stop atau cahaya yang masuk menjadi ½ dari jumlah cahaya awal.

Hukum intensitas cahaya

Mari kita ambil sebuah contoh, di saat kita menset sebuah lampu flash pada jarak katakanlah ½ m, katakanlah kita tidak menggunakan flash meter sehingga tidak bisa mendapatkan ukuran yang pas. Jepretan pertama foto yang di ambil over expose, lalu berdasarkan analisa foto, cahayanya kelebihan 2 kalinya. Kita ambil keputusan untuk memundurkan lampu agar intesitas cahaya lampu tersebut menjadi ½ nya. Lalu kita mundurkan lampu tersebut menjadi 1 m, ketika di jepret maka fotonya kok menjadi under exposure. Padahal asumsi kita dengan memundurkan lampu dari jarak ½ m ke 1 m, kita sudah menurunkan intensitas cahaya 2 kalinya. Benarkah?

Cahaya mempunyai kekompleksan tersendiri dalam proses perambatannya, namun para ahli telah menemukan semuah formula yang sampai saat ini masih valid untuk digunakan. Formula tentang intensitas cahaya adalah  bahwa intensitas cahaya akan berlipat atau menjadi setengahnya berdasarkan jarak yang dikalikan dengan akar 2. kalau hasil dari akar 2 dibulatkan sekitar 1.4142, maka untuk mendapatkan ½ jarak dari ½ m, maka jarak yang dibutuhkan untuk mendapat cahaya yang tepat adalah ½ x 1,4142 = 0,7 m. Jadi bukan ½ x 2 = 1 m .

Penambahan atau pengurangan angka pada f-stop menggunakan formula intensitas cahaya tersebut: Perhatikan table 1 berikut:

Tabel 1. Perhitungan f-stop berdasarkan hukum intensitas cahaya

Bagaimana dengan maksimal aperture pada zoom lens?

Kalau kita perhatikan pada kebanyakan lensa zoom pada kelas entry level selalu tertulis range zoom dan range aperture. Contoh pada gambar 4 berikut: lensa 14-45mm, 3.5 – 5.6, apakah artinya?

Tulisan tersebut berarti maksimal bukaan diafragma pada focal length 14mm adalah f/3.5 dan ketika zoom-nya diputar menjadi lebih besar dg focal length 45mm, maka maksimal bukaan diafragmanya menjadi 5.6. lebih jauh tentang focal length akan di jelaskan secara terpisah. Dengan kondisi yang demikian maka dibutuhkan kehati-hatian ketika kita memotret dalam mode manual (M), karena pergerakan focal length akan mengakibatkan perubahan f-stop lensa. Jika metering dilakukan pada focal length 14 mm maka ketika zoom diputar ke arah focal length 45 mm dan metering tidak dirubah maka foto akan menjadiunder expose. begitu juga sebaliknya akan mengakibatkan terjadi over expose.

Lalu mengapa f/3.5 tidak ada dalam table f-stop standard?

Saat ini pada setiap kamera telah dilengkapi dengan interval f-stop 1/3 atau 1/2 stop. Pada f-stop standar, intervalnya adalah 1-stop. Berapapun interval tersebut, pemahaman f-stop ini sangat dibutuhkan untuk memotret secara manual, saya pribadi lebih cenderung menggunakan interval 1-stop karena lebih memudahkan untuk mengkalkulasinya. Penentuan f-stop selain berhubungan dengan setting shutter speed juga sangat menentukan depth of field (DOF) yang akan dijelaskan pada bagian tersendiri.

04/17/2010 - Posted by | PHOTOGRAPHY

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: