BICARA

Billy – Calysta – Ira

Komposisi dalam fotografi

Menurut kamus bahasa, komposisi (composition) berarti sebuah proses penggabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam fotografi komposisi merupakan sebuah proses yang sangat vital karena dari komposisi itulah sebuah foto bisa becerita, dari komposisi pula sebuah foto terlihat indah dan enak dipandang untuk dinikmati. Berbeda dengan seni lukis yang memulai komposisi dari bidang kosong, kemudian menambahkan elemen-elemen yang dirasa perlu agar pesan lukisannya bisa sampai ketika dilihat orang lain. Komposisi dalam fotografi dimulai dari bidang yang penuh, kemudian satu-persatu elemen yang tidak perlu disingkirkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Komposisi sangat berkaitan dengan estetika, untuk itu tidak ada peraturan yang mengikatnya, kalaupun ada hanyalah sebatas panduan yang boleh diikuti dan boleh juga tidak dikuti. Untuk itu ada istilah following the rule dan breaking the rule. Tetapi bagaimanapun panduan-panduan dalam menentukan komposisi ini sudah melalui proses studi yang cukup panjang sehingga sangat sesuai dengan indera penglihatan manusia dalam menikmati karya visual ini. Untuk itu tidak ada salahnya panduan ini dipelajari dan dikuasai betul, setelah itu baru putuskan apakah akan mengikutinya atau tidak karena esensi dunia seni sangat tidak terbatas. Sebagai bahan masukan juga, setiap lomba foto formal selalu mendasarkan salah satu penilaiannya pada panduan komposisi ini.

Buatlah simple (Simplicity)

Pada forum-forum kritik foto, sering kita dengar komentar-komentar seperti ini: “simple tapi menarik…”, atau “backgroundnya terlalu ramai sehingga POI kurang menonjol…” dan lain-lain. Tujuan komposisi ini adalah memberikan penonjolan pada object utama foto (point of interest – POI)agar langsung terlihat secara utuh tanpa gangguan elemen-elemen lain yang tidak diperlukan. Karena itu saat melihat sebuah object yang hendak difoto, pastikan benar bahwa elemen-elemen yang masuk kedalam frame kamera adalah elemen-elemen yang benar-bener diperlukan. Cobalah zoom lebih dekat atau cari sudut pandang lain jikalau hal itu terjadi.

Perhatikan contoh berikut :

Gambar 1

Gambar 2

Perhatikan gambar 1, object utama tidak terlalu menonol karena penglihatan akan terbagi ke beberapa aspek lainnya yang sama menonjol atau kurang menonjol tapi punya implikasi untuk mengalihkan perhatian. Struktur kayau dermaga yang kompleks bisa menyaingi object utama karena porsi dan intensitas cahayanya seimbang dengannya. Orang-orang yang terlihat di background juga punya andil yang cukup besar untuk mengalihkan perhatian karena orang akan merasa penasaran dengan aktivitas yang sedang dilakukannya.

Perhatikan gambar 2. Seluruh tumpuan penglihatan hanya tertuju kepada object utama karena tidak ada bagian lain yang akan menarik perhatian yang melihatnya. Semua elemen yang berpotensi mengganggu sudah dihilangkan. Contoh ini menunjukan bahwa zooming atau memfokuskan ke frame hanya ke object utama akan menghasilkan gambar yang simple tapi tepat sasaran.

Gambar 3

Gambar 4

Pada gambar 3, object utama duduk di dermaga dengan background kapal-kapal yang sedang bersandar. Background dibutuhkan untuk memberikan cerita dan suasana di dermaga. Masalahnya adalah background terlalu ramai sehingga perhatian akan terpecahkan dan object utamanya sendiri menjadi agak kurang menonjol.

Gambar 4, memperbaiki kondisi tersebut tanpa menghilangkan suasana dermaganya, porsi kapal hanya diberi sedikit sehingga object utama menjadi lebih menonjol. Contoh ini memperlihatkan bahwa hanya dengan menggeser sudut pengambilan gambar, simplicity bisa didapatkan.

Hindari penumpukan object (merger)

Penumpukan object akan sangat mengganggu object utama (POI) karena bisa merusak keindahannya dan mengurangi rasa nikmat dalam melihatnya. Perhatikan contoh berikut :

Gambar 5

Gambar 6

Perhatikan gambar 5, posisi kamera tepat sejajar dengan kepala object utama bahkan terkesan menyatu dengan bagian rambut karena tidak ada pemisah. Kondisi ini adalah salah satu yang bisa dikategorikan sebagai penumpukan. Model yang harusnya terlihat cantik akan terganggu oleh keberadaan elemen kamera yang tidak pada tempatnya.

Gambar 6, diambil dari sudut tembak yang lain dan memperbaiki kondisi yang ada. Bisa dilihat gambar 6 terlihat lebih menarik dibandingkan dengan gambar 5.

Rule of Third

Panduan komposisi rule of third mungkin yang paling populer dan paling sering diterapkan. Pada prinsipnya panduan ini adalah menempatkan object utama tidak pada tengah frame tetapi pada salah satu dari 1/3 bagian sisi pojok foto, lihat grafik berikut.

Gambar 7 Skema Rules of Third

Menempatkan object utama di tengah frame akan menghasilkan foto yang kurang dinamis dan terkesan snapshot. Menempatkan object utama pada prinsip rule of third akan memberikan efek yang lebih dinamis. Dan berdasarkan penelitian, mata kita memang lebih terasa nyaman pada posisi tersebut.

Gambar 8

Gambar 9

Gambar 10

Gambar 11

Perhatikan gambar 8, pada gambar ini object utama tepat berada di tengah frame, foto seperti ini biasanya dihasilkan dari para pemula yang melakukan snap shot. Begitu melihat object, langsung ditempatkan pada tengah frame mengikuti titik focus tengah lalu jepret tanpa berfikir untuk melakukan rekomposisi atau menggunakan bagian titik focus sisi yang lain (pada kamera-kamera terbaru). Hasilnya dikenal dengan sebutan dead center. Foto seperti ini terlihat tidak dinamis.

Gambar 9, 10 dan 11 memperlihatkan contoh komposisi yang sesuai dengan rule of third. Penempatan object utama dan object lain diposisikan pada setiap titik persilangan garis.  Pada gambar 9, si anak diposisikan pada titik kanan bawah dan sepeda diposisikan pada kiri bawah. Foto ini menjadi lebih dinamis dan enak untuk dilihat karena posisinya tersebut. Gambar 10, mempelihatkan nelayan di atas rakit yang diposisikan pada titik kiri atas dan gambar 11, memperlihatkan bayi yang menangis  yang menjadi object utama foto ini dan diposisikan pada titik kiri atas.

Mengikuti rule of third sangatlah mudah, cukup membayangkan empat titik tersebut saat membidik lalu putuskan pada titik mana object utama akan ditempatkan.

Golden Mean

Golden mean juga dikenal dengan golden section adalah sebuah panduan komposisi yang didasarkan pada perhitungan matematika yang unik.

Gambar 12 Formula Golden Section

Panduan komposisi ini pertama kali didokumentasikan oleh seniman yunani kuno dan sampai saat ini masih digunakan meskipun popularitasnya agak tertutupi oleh panduan komposisi rule of third. Prinsipnya panduan kompoisi ini hamper sama dengan rule of third namun titik interesnya lebih sempit sekitar 5% kearah tengah. Perhatikan gambar berikut:

Gambar 13. Rule of third vs Golden Mean

Pada teorinya golden mean ini bisa digunakan pada semua scene foto, tapi pada prakteknya lebih mudah diaplikasikan pada foto portrait formal/klasik. Pada scene lain lebih mudah menggunakan komposisi rule of third.

Gambar 14. Golden Mean vs Rule of third

Gambar 15. Golden Mean

Perhatikan gambar 14, garis kuning yang berada disebelah luar adalah panduan komposisi rule of third dan garis putih yang berada dibagian dalam adalah panduan komposisi golden mean. Golden mean sangat cocok untuk portrait wajah karena point of interestnya ada pada bagian mata dan sangat sesuai dengan besaran rasionya. Perhatikan juga gambar 15 untuk contoh lainnya.

Balance

Dalam fotografi balance berarti mengisi frame dengan porsi yang kurang lebih seimbang, bisa oleh elemen object, warna ataupun contrast.  Sebuah foto dengan komposisi yang balance akan terasa saat kali pertama dilihat begitu juga sebaliknya.

Perhatikan contoh berikut;

Gambar 16

Pada gambar 16, satu bagian terisi oleh elemen object yaitu seorang wanita cantik, meskipun pandangan menyapu kearah kiri sehingga kesan dinamis terlihat, foto ini tetap timpang, tidak balance. Bagian kosong dalam frame ini telalu lebar sehingga terasa ada sesuatu yang kurang ketika melihatnya.

Gambar 17

Pada gambar 16, kekosongan ruang yang mengakibatkan foto terasa tidak seimbang diperbaiki dengan hanya menambah satu elemen kecil saja yaitu sebuah lilin yang menyala.  Jadi balance tidak perlu elemen yang sama besar, yang terpenting adalah jangan sampai membiarkan ada kekosongan yang terlalu besar dalam frame foto tersebut.

Gambar 18

Pose juga bisa menjadikan sebuah komposisi menjadi balance atau tidak balance. Gambar 18 adalah contoh pose yang memberikan kesan balance pada foto. Shape/bentuk pose yang membentuk segitigalah (triangle shape) yang menjadikan kesan balance tersebut. Banyak contoh-contoh lain dan Kasus yang lain yang bisa dijadikan contoh, namun karena keterbatasan resource tampaknya contoh diatas bisa dijadikan panduan tentang bagaimana sebuah komposisi yang balance. Sekali lagi yang terpenting adalah jangan sampai ada kekosongan yang terlalu luas dalam sebuah frame.

Framing

Dalam komposisi, framing adalah memberikan elemen-elemen tertentu diantara object utama sehinga membuat kesan object utama tersebut berada dalam sebuah bingkai/frame. Frame tersebut bisa berbentuk apa saja, bisa dedaunan, bisa bidang gelap, bisa jendela ruma, kaca pecah dan lain-lain yang tidak terbatas jumlahnya. Diperlukan pemikiran kreatif memang untuk mendapatkan komposisi framing yang menawan. Perhatikan contoh berikut:

Gambar 19

Gambar 20

Gambar 21

Gambar 19, 20 dan 21 adalah contoh komposisi dengan menggunakan framing. Sekali lagi contohnya sangat luas, yang saya coba tampilkan di sini adalah contoh-contoh yang saya miliki saja. Pada gambar 20, meskipun daunnya tidak begitu banyak, tetap saja kesan yang diberikan seakan object utamanya berada dalan frame daun tersebut. Gambar 21, object utama berada dalam bingkai yang berupa cermin. Banyak hal bisa menarik kalau kita cermat menjadi sesuatu sebagai frame dan kabar baiknya adalah modal yang dibutuhkan hanyalah kreatifitas.

Line & Curve

Komposisi ini berdasarkan pada garis dan curve yang membentuk arah penglihatan menuju object utama. Secara tidak sadar mata kita selalu mengikuti arah garis jika melihat sebuah foto yang memang ada garisnya, untuk itu sebagai fotografer kita dituntut untuk bisa memanfaatkan garis ini semaksimal mungkin untuk menggiring mata yang melihat foto yang kita ciptakan ke object utama. Garis bisa berupa apa saja, bisa jalan, sungai, pagar, tali atau bahkan bayangan. Garis adalah hal yang setiap hari bisa kita temui di mana saja, ia bisa menggabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan atau bisa memisahkannya menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri.

Komposisi line & curve bisa berupa komposisi diagonal, vertical, horizontal dan kurva atau garis lengkung yang masing-masing bisa membentuk mood tersendiri. Vertical biasa digunakan untuk kesan kuat yang diterapkan pada cityscape. Horizontal bisa memberikan mood kedamaian, biasanya diterapkan pada landscape, diagonal memberikan mood pergerakan dan kurva memberikan mood elegan seperti yang sering diterapkan pada portrait wanita dengan menggunakan S-curve. Perhatikan contoh-contoh berikut:

Gambar 22

Gambar 23

04/11/2010 - Posted by | PHOTOGRAPHY

4 Comments »

  1. mantaabbb
    mksiih

    Comment by wiina dolphind | 10/14/2010

  2. tutorialnya bagus sekali, gampang dipahami. Good job!

    Comment by kojack | 01/07/2011

  3. golden mean rasionya 0.618 ato 1.618?

    Comment by hanafi | 01/24/2011

  4. info yang baik,, thanx om

    Comment by sulewana | 03/28/2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: